Sosok Imam Dihlizi, Anak Muda 28 Tahun dengan Segudang Pengalaman Siap Membawa Pepedan “Membara”


Sosok Imam Dihlizi, Anak Muda 28 Tahun dengan Segudang Pengalaman Siap Membawa Pepedan “Membara”


PEMALANG – Sosok anak muda bernama Imam Dihlizi mencuri perhatian dengan semangatnya untuk turut membangun dan memajukan Desa Pepedan Kecamatan Moga. Di usia 28 tahun, Imam hadir dengan membawa pengalaman panjang dari berbagai daerah serta perjalanan belajar dan pengabdian yang dinilainya menjadi bekal untuk berkontribusi bagi masyarakat.

Imam Dihlizi merupakan putra dari Ibu Nur Asih dan almarhum Bapak Darsono. Ia berasal dari garis keluarga yang memiliki akar sejarah dan tradisi keilmuan di Desa Pepedan, yakni cucu Ustadz Toha, cicit Kyai Abdul Jamil, cicit KH Qomaruddin, serta canggah KH Abdurrahman bin Rawi yang dikenal sebagai Mbah Lurah Perlot Pepedan.

Perjalanan hidup Imam tidak hanya ditempa di lingkungan desa. Ia pernah menimba pengalaman dan belajar di sejumlah daerah, di antaranya Cirebon, Krapyak Yogyakarta, Jombang, Mojokerto, Jakarta, Bandung hingga Pekalongan.

Dari perjalanan panjang tersebut, berbagai pengalaman ia dapatkan melalui kegiatan belajar, organisasi, maupun pengabdian. Imam tercatat pernah mengikuti magang di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Kementerian Desa dan Daerah Tertinggal (Kemendes), serta Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg).

Pengalamannya juga bersentuhan dengan bidang kebudayaan dan sejarah. Ia pernah magang di Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah dan Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur. Selain itu, Imam juga pernah menjadi relawan di Museum Sonobudoyo Yogyakarta, Keraton Kasunanan Surakarta, serta Keraton Kasunanan Kartasura.

Berbagai pengalaman tersebut menjadi bekal yang ingin ia bawa pulang ke desa. Bagi Imam, perjalanan yang panjang bukan sekadar untuk menambah pengalaman pribadi, tetapi harus memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan tempat ia berasal.

Dengan karakter yang cekatan,tegas dan semangat yang tulus, Imam ingin turut membenahi berbagai hal serta mendorong kemajuan Desa Pepedan. Pengetahuan, pengalaman, jejaring, dan wawasan yang diperolehnya selama berada di berbagai daerah ingin dimanfaatkan untuk ikut mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.

Kini, anak muda berusia 28 tahun itu menyatakan kesiapannya untuk memberikan energi baru bagi Desa Pepedan. Ia membawa gagasan “Pepedan Membara”, yang merupakan akronim dari Maju, Berdaya, Sejahtera dan Berbudaya.

Konsep tersebut menjadi gambaran semangat Imam dalam melihat masa depan desa. Kemajuan, menurutnya, tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga bagaimana masyarakat semakin berdaya, kesejahteraan meningkat, serta budaya dan nilai-nilai kearifan lokal tetap terjaga.

Dengan bekal perjalanan belajar dan pengalaman yang telah dilalui, Imam Dihlizi kini pulang membawa semangat untuk mengabdi. Dari berbagai tempat ia belajar, pengalaman itu ingin dikembalikan untuk tanah kelahirannya.

Pepedan Membara bukan sekadar slogan, tetapi menjadi semangat seorang anak muda untuk menjadikan desa lebih maju, masyarakat lebih berdaya, kehidupan lebih sejahtera, dan budaya tetap menyala.

Posting Komentar

0 Komentar