Pesantren Kecil di Kaki Gunung Slamet, Santri Hafiz Al-Qur’an Raup Jutaan Rupiah dari Pasar Digital Global


Pesantren Kecil di Kaki Gunung Slamet, Santri Hafiz Al-Qur’an Raup Jutaan Rupiah dari Pasar Digital Global



PEMALANG — Di tengah ketidakpastian ekonomi, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), dan tingginya angka pengangguran, Pondok Pesantren Nihadlul Qulub di Desa Moga, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, menghadirkan model pendidikan yang tidak biasa.

Pesantren yang berada di kaki Gunung Slamet itu memadukan pendidikan tahfiz Al-Qur’an dengan keterampilan digital dan kemandirian ekonomi. Meski memiliki fasilitas sederhana dan kapasitas sekitar 20–30 santri, pesantren tersebut mampu membekali para santrinya untuk menembus pasar digital internasional.

Para santri penghafal Al-Qur’an tidak hanya menjalani rutinitas muraqabah, murajaah dan setoran hafalan, tetapi juga belajar mengelola toko e-commerce internasional serta menjual produk digital, khususnya desain grafis, ke pasar Amerika, Kanada dan Eropa.

Pengasuh Pondok Pesantren Nihadlul Qulub, Ali Sobirin El-Muannatsy, mengatakan proses pendidikan yang dijalankan tidak semata-mata mengejar kemampuan akademik maupun ijazah.

Menurutnya, visi, kebiasaan, ketekunan dan lingkungan yang mendukung justru menjadi modal penting bagi seseorang untuk berkembang.

“Bukan bakat atau kecerdasan, melainkan visi, kebiasaan, dan ketekunan yang didukung lingkungan,” tegasnya.

Menjaga Hafalan Sekaligus Belajar Mandiri

Kehidupan di pesantren berlangsung sederhana. Lokasinya berada di tengah persawahan, dikelilingi perbukitan dan aliran sungai. Udara sejuk menjadi keseharian para santri, sementara kondisi bangunan yang masih sederhana menjadi bagian dari proses mereka menempa diri.

Dari kapasitas sekitar 20–30 santri, saat ini jumlah penghuni pesantren masih kurang dari 15 orang. Jumlah yang relatif sedikit tersebut memungkinkan pengasuh memberikan pendampingan secara lebih personal.

Rutinitas tahfiz dilakukan secara terstruktur. Para santri menjalankan muraqabah dengan membaca satu juz setelah setiap salat fardu, kemudian murajaah sebelum setoran hafalan.

Setoran kepada pengasuh dilaksanakan sekitar pukul 06.00 hingga 07.00 WIB. Kegiatan tersebut bahkan dilakukan di luar ruangan sambil menikmati udara pagi di kaki Gunung Slamet.

Kedisiplinan menjadi bagian penting. Kebiasaan begadang atau terlalu lama menggunakan telepon seluler dapat berpengaruh terhadap kemampuan santri dalam menjaga hafalannya.

“Semua berkelindan, sebuah rintangan dan beban. Sungguh, tidak mudah atau seringan membalik telapak tangan,” ujar Ali.

Hanya Tiga Jam di Lab, Menjangkau Pasar Dunia

Hal menarik lainnya adalah aktivitas digital para santri. Mereka mendapat waktu sekitar tiga jam setiap hari untuk mengembangkan usaha digital di laboratorium komputer, umumnya mulai pukul 09.00 hingga 11.00 WIB, dengan Jumat dan Minggu sebagai hari libur.

Dalam waktu terbatas tersebut, sejumlah santri mampu memperoleh penghasilan yang cukup signifikan dari penjualan produk digital.

Abdinal, santri asal Cirebon, misalnya, mampu memperoleh sekitar Rp4 juta per bulan. Penghasilan tersebut bahkan digunakan untuk membantu biaya pengobatan ibunya yang sedang menjalani kemoterapi.

Ada pula Lehan, santri asal Lampung, yang pada bulan ketiga setelah membuka toko digital berhasil memperoleh sekitar Rp9 juta.

Sementara Andar, santri asal Papua, baru mulai mengembangkan tokonya setelah menghadapi kendala administrasi. Namun setelah memasuki bulan ke-10, total pendapatannya telah mencapai sekitar Rp7 juta.

Selain mereka, sejumlah santri lainnya juga telah memperoleh pendapatan mulai dari ratusan ribu rupiah per bulan.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa keterampilan digital dapat menjadi salah satu jalan bagi generasi muda untuk membangun kemandirian ekonomi, bahkan dari lingkungan pendidikan yang sederhana.

Hasil Jerih Payah untuk Orang Tua

Hal yang menarik bukan hanya nominal pendapatan para santri, tetapi juga bagaimana mereka memanfaatkannya.

Dalam sebuah kesempatan, pengasuh pernah bertanya kepada seorang santri mengenai uang hasil pekerjaannya.

“Uangmu mana? Saya tidak mau minta,” ujar Ali.

Santri tersebut menjawab, “Dikirim ke orang tua, Kyai. Semua.”

Ali pun mengapresiasi sikap tersebut. Menurutnya, berbakti kepada orang tua harus dilakukan selagi memiliki kesempatan.

“Uang gampang dicari, bakti kepada orang tua secepat-cepatnya. Mumpung berkesempatan. Nanti pada tahap tertentu, kalian harus mulai mengatur keuangan untuk pengembangan diri,” tuturnya.

Kisah serupa juga terjadi pada santri asal Bondowoso yang harus menunda rencana pendakian karena uang yang dimilikinya lebih dahulu dikirimkan untuk membantu biaya pengobatan orang tua.

Mendaki Gunung Slamet untuk Menempa Mental

Pendidikan di Nihadlul Qulub juga tidak berhenti di ruang kelas maupun laboratorium komputer. Para santri diwajibkan menjalani pendakian Gunung Slamet setidaknya sekali selama berada di pesantren.

Pendakian tersebut diposisikan sebagai bagian dari “pendadaran” fisik dan mental.

Para santri dilatih menghadapi kelelahan, mengelola emosi, memahami manajemen perjalanan, berkomunikasi dengan orang baru, melakukan dokumentasi, hingga belajar bertahan ketika menghadapi keterbatasan.

Dalam sejumlah pendakian, ada santri yang mengalami muntah, hampir mengalami hipotermia karena perlengkapan diberikan kepada temannya, bahkan ada yang sempat ingin menyerah.

Namun pengalaman tersebut justru menjadi bagian dari proses pembentukan karakter.

Rencana pendakian ke Gunung Sindoro dan Sumbing yang sebelumnya direncanakan bertepatan dengan momentum kemerdekaan juga harus ditunda. Salah satu pertimbangannya adalah kemandirian finansial karena kini para santri mulai belajar membiayai kegiatannya sendiri.

Melawan Godaan Gawai

Tantangan terbesar para santri bukan hanya pekerjaan dan hafalan, tetapi juga kemampuan mengendalikan diri.

Gawai dan media sosial menjadi salah satu godaan yang harus mereka hadapi. Sebagian menggunakannya untuk mengisi waktu, tetapi sebagian lainnya dapat terjebak dalam aktivitas scrolling tanpa tujuan.

Sebaliknya, santri yang mampu memanfaatkan waktu luang memilih melakukan kegiatan produktif, seperti bercocok tanam tomat, sawi dan cabai.

Di sinilah pendidikan karakter menjadi bagian penting dari sistem yang diterapkan.

Para santri didorong memahami bahwa tidak ada kesuksesan yang datang secara instan. Mereka dibiasakan untuk berlatih, mengulang dan terus memperbaiki diri.

Selain tahfiz dan digital marketing, mereka juga mendapat pembelajaran tambahan seperti nahwu sharaf, membaca buku, public speaking dan pengembangan diri.

Pendidikan untuk Menghadapi Masa Depan

Ali Sobirin El-Muannatsy yang juga dikenal sebagai hipnoterapis dan trainer nasional melihat kondisi ekonomi saat ini sebagai tantangan besar bagi generasi muda.

Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dengan ijazah. Generasi muda juga harus memiliki visi hidup, kebiasaan yang baik, keterampilan dan ketekunan.

Pesantren Nihadlul Qulub berusaha membangun pola tersebut melalui perpaduan pendidikan agama, keterampilan digital, kemandirian ekonomi, pembentukan karakter dan latihan fisik.

Dari pesantren sederhana di tengah persawahan Moga, para santri belajar bahwa menjadi penghafal Al-Qur’an tidak harus membuat mereka terputus dari perkembangan zaman.

Justru dengan bekal agama dan keterampilan, mereka didorong mampu menghadapi dunia yang semakin kompetitif.

Nihadlul Qulub mungkin bukan pesantren dengan bangunan megah dan jumlah santri yang besar. Namun dari kaki Gunung Slamet, sebuah proses pendidikan sedang berlangsung: menghafal Al-Qur’an, bekerja, belajar mandiri, berbakti kepada orang tua, menempa fisik dan mental, serta mempersiapkan diri menghadapi masa depan.

Sebuah pesantren kecil, dengan segala keterbatasannya, yang tengah menunjukkan bahwa visi, kebiasaan, ketekunan dan lingkungan yang tepat dapat menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk menghadapi ketidakpastian zaman.

Posting Komentar

0 Komentar