AMM dan PCM Ngaglik Insiasi Gerakan Shadaqah Sampah

AMM dan PCM Ngaglik Insiasi Gerakan Shadaqah Sampah


Yogyakarta-Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Ngaglik bersama Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Nganglik menyelenggarakan “Sekolah Sampah” bertajuk “Ubah Sampah Jadi Berkah” pada Ahad, 12 November 2023 bertempat di Kampus 2 SD Muhammadiyah Ngaglik, Sleman, DIY. Sekolah Sampah tersebut diasuh oleh Ustadz Ananto Isworo, S.Ag. selaku Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY dan Founder Gerakan Shadaqah Sampah Berbasis Eco-Masjid. Acara dilangsungkan mulai pagi sampai dengan sore dan dihadiri lebih dari 50 orang yang merupakan perwakilan dari beberapa organisasi dan instansi di wilayah Ngaglik, seperti PCM, PCA, PCPM, PCNA, Kecamatan, Kelurahan, dan Dinas terkait.


Di sesi pertama, Ustadz Ananto menyampaikan materi “Teologi Lingkungan: Tanggung Jawab Seorang Muslim terhadap Lingkungan”. Ia memaparkan bahwa mengelola sampah merupakan kewajiban setiap individu untuk menghindari diri dari perbuatan tabdzir dan israf sehingga Gerakan Shadaqah Sampah bisa dilaksanakan mulai dari individua tau diri sendiri, keluarga, hingga kelompok atau jama’ah. Dengan landasan Teologi Lingkungan, Ustadz Ananto memulai Program Eco-Masjid di Masjid Al Muharram Brajan, Tamantirto, Kasihan, Bantul, sejak tahun 2013 melalui program arsitektur ramah lingkungan, penghijauan sekitar masjid, panen air hujan, pengelolaan shadaqah sampah, masjid ramah anak, dan masjid ramah difabel.

Di sesi kedua dilanjutkan dengan pemaparan materi pengelolaan sampah organik. “Sampah organik harus selesai di rumah masing-masing yang dikelola menjadi pupuk kompos dengan media ember tumpuk, compos bag, LOSIDA (Lodhong Sisa Dapur), LUSO, Eco Enzym, atau Kompos Takakura,” ujar peraih Penghargaan Pajak Bantul Award 2021 dalam Kategori Pejuang Kebersihan tersebut. Dalam paparannya, Ustadz Ananto menunjukkan beberapa contoh media yang bisa digunakan untuk mengolah sampah organik menjadi kompos dan menjelaskan tata cara pengolahannya.


Adapun sesi terakhir diisi materi pengelolaan sampah anorganik. Dijelaskan bahwa sampah anorganik adalah sampah yang dihasilkan dari bahan-bahan non hayati baik berupa produk sintetik maupun hasil proses teknologi pengelolahan bahan tambang atau sumber daya alam dan tidak dapat diuraikan oleh alam secara cepat, misalnya botol plastik, tas plastik, kaleng, alumunium, kertas, dan lain sebagainya.

 Sampah anorganik dapat dikelola melalui Gerakan Shadaqah Sampah, yaitu pengumpulan sampah anorganik yang berasal dari rumah tangga, kantor, masjid, sekolah/kampus, Posyandu, PKK, dan lain-lain yang dikumpulkan di masjid dan diniatkan sebagai shadaqah untuk selanjutnya dipilah, dijual, dan hasil uangnya dipergunakan untuk santunan pendidikan, santunan sembako, dan santunan kesehatan bagi warga kurang mampu. Salah satu delegasi Indonesia dalam 2020 Global Forum on Environtment Paris tersebut menambahkan: “Penyetor tidak mendapatkan uang dari penyetoran sampah, melainkan pahala yang dijanjikan Allah SWT. Gerakan Shadaqah Sampah memberi kesempatan kepada orang kaya maupun miskin untuk sama-sama bisa bershadaqah.”


Dalam sambutannya, Ketua Panitia, Hidayatul Mabrur, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa “Sekolah Sampah” akan dilanjutkan dengan studi tiru ke Masjid Al Muharram Brajan, Tamantirto, Kasihan, Bantul untuk melihat langsung proses pengolahan sampah di sana, dan tanggal 25 November 2023 nanti akan dilakukan launching Gerakan Shadaqah Sampah di Ngaglik serta Tabligh Akbar yang akan menghadirkan Ustadz dr. Agus Taufiqurrahman, Sp.S., M.Kes (Ketua PP Muhammadiyah) dan Siti Fauziyah (Pemeran Bu Tejo dan Film “TILIK”). 

Ketua Majelis Hukum, HAM, dan Lingkungan Hidup PCM Ngaglik, Ari Wibowo, S.H.I., S.H., M.H., berharap peserta “Sekolah Sampah” bisa istiqamah untuk menjadi kader penggerak Shadaqah Sampah di Ngaglik. “Melestarikan lingkungan merupakan tugas kita sebagai khalifatullah fil ‘ardh. Amal yang mungkin bagi manusia nampak kecil tapi insyaAllah besar di mata Allah,” tutupnya.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama