Kokam Laku Perjuangan-Ku

 

Kokam Laku Perjuangan-Ku




Kokam Laku Perjuangan-Ku


Oleh: Fathul Amin

KOKAM Adiwerna

________________

Pertama kalinya ku ikuti Diklatsar Kokam tahun 2003. ini merupakan pendidikan kilat dasar Kokam angkatan ke-2 di tlatah Tegal waktu itu. Seingatku Diklatsar angkatan ke-2 ini pesertanya banyak dari kalangan kader tapak suci dan "muallaf" muhammadiyah, ya orang-orang yang baru mengenal Muhammadiyah itu berproses lewat Kokam. 

Sedangkan Diklatsar angakatan pertama, menurutku pesertanya banyak orang-orang hebat; petinggi muhammadiyah, pendekar tapak suci, kader tapak suci dan Guru. 

Ketertarikanku bergabung dengan KOKAM sudah tumbuh dalam sanubari sejak aku duduk di kelas 6 _Madrasah Ibtidaiyah_. Keinginan menjadi bagian dari Kokam itu terus menyala. Hingga satu kesempatan akhirnya aku menjadi peserta termuda dari Adiwerna dan dengan semangat mendaftarkan diri mengikuti Diklatsar, dengan *wajib* memenuhi syarat yaitu menyandang sabuk biru tapak suci. Dimana sabuk kehormatan itu kuperoleh tahun 2002.

Proses diklatsar ku jalani selama 3 hari 4 malam.  Sebuah proses pendidikan etika dan tempaan fisik yang penuh tantangan sekaligus  ketegangan.

Sepuluh hari setelah itu di lakukan proses pembaretan dengan diawali setiap peserta berlari dari waduk Cacaban ke Pantai Alam Indah tegal tanpa berhenti, dengan jarak tempuh kisaran 15 KM. Saat ada peserta yang mencoba berhenti berlari maka di pastikan hukuman pun sudah menanti didepan mata; roll, push up, squat jump, bagi yang pingsan hanya ada dua pilihan yaitu di tinggal sampai ia sadar lalu melanjutkan lari nya atau di tandu rekan diklatnya sambil berlari.

Tak berhenti di situ ketika sampai di pantai alam indah Tegal semua peserta harus mencari ikat kepala merah (simbol baret) yang di sebar di tengah laut tanpa pengaman sedikitpun, tak peduli bisa renang atau tidak, pilihan saat itu bagi semua peserta adalah hidup atau mati.

Masih segar di ingatanku, KH. Mudzakir fauzi, ulama kami ini begitu meneteskan air mata, merasa iba pada para peserta. Hingga beliau meminta kepada panitia untuk menyudahi penderitaan para peserta, karena banyak juga yang tergulung ombak termasuk aku yang terseret jauh ke tengah. Karena itulah

beliau termasuk salah satu tokoh kami yang sangat menyayangi kokam. Karena beliau sadar betapa berat Diklatsar kokam waktu itu.

Setelah proses diklat selesai. Aku di beritahu alasan kenapa tapak suci itu wajib bagi calon anggota kokam.  Ternyata alasannya karena anggota tapak suci telah banyak di bekali ILMU, AMAL, AKHLAQ, KEIKHLASAN, KEKUATAN FISIK DAN PENGENDALIAN DIRI. Dimana 6 elemen tersebut _mutlaq_ harus di miliki seorang anggota kokam. Dan semua itu di dapatkan sebelumnya melalui gemblengan di tapak suci putera muhammadiyah.

Banyak Pesan moral yang bisa diambil melalui Diklatsar kokam waktu itu yang bisa menjadi pembelajaran kita bersama dalam ber-Muhammadiyah lewat jalur juang Kokam. Yaitu, Pertama,

Kokam yang pantang menyerah, pantang memecah belah. 

Kedua, Kokam yang teguh, pantang membuat gaduh.

Ketiga, Kokam yang disiplin, bukan kokam yang cuma main main.

Keempat, Kokam yang cerdas, bukan kokam yang culas.

Kelima, Kokam yang patuh, bukan kokam yang tak punya unggah ungguh. 

Keenam, Kokam yang berilmu, bukan kokam  yang tak mau tau.

Ketujuh, Kokam yang setia, pantang berbuat riya'.

Kedelapan, Kokam yang militan, bukan kokam yang hanya mencari makan.

Kesembilan, Kokam yang taat aturan, pantang mencela peraturan.

Kesepuluh, Kokam yang taat pimpinan, pantang menghujat pimpinan.

Kesebelas, Kokam yang menebar kebaikan, pantang menyebar fitnahan_.

Kedua belas, Kokam yang rendah hati dan tau diri.

Salah satu alternatif menjaga 6 elemen penting dan nilai-nilai yang di dapat saat Diklat kokam tersebut diatas adalah dengan cara rutin menghadiri majelis Ilmu. atau kajian ilmu.

Karena ilmu akan membimbing kita untuk senantiasa beramal, berakhlak, ikhlas, dan ilmu adalah kekuatan sekaligus pedoman perjuangan orang² beriman.

Seorang kokam yang mekekat padanya nilai² diatas, maka kuatlah prinsipnya, dan terkendalilah hawa nafsunya. Mari raih nilai² kemuliaan itu.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama