Guru SD Muhammadiyah 1 Solo Terima Syahadah Standardisasi Da’i



Guru SD Muhammadiyah 1 Solo Terima Syahadah Standardisasi Da’i


SOLO – Jatmiko, Wakil Kepala Sekolah Penggerak Berkemajuan bidang Humas SD Muhammadiyah 1 Ketelan Solo, terima syahadah standardisasi da’i (SSD) Majelis Ulama Indonesia (MUI) tertanda tangan Ketua MUI KH M Cholil Nafis LC PhD dan Ketua Komisi Dakwah KH Ahmad Zubaidi MA, yang diselenggarakan Majelis Ulama Indonesia pada bulan, 25 Jumadil Awal 1444 Hijriyah bertepatan 19 Desember 2022 di Jakarta lalu.

AlHamdulillah atas dukungan kepala sekolah Hj Sri Sayekti, 4 Wakil Kepala Sekolah dan warga sekolah telah menerima syahadah standardisasi da’I dari Majelis Ulama Indonesia yang di gelar di Jakarta tahun 2022,” terang Jatmiko, sambil tersenyum, Kamis (26/1/2023).

Program standardisasi dai itu adalah respons positif terhadap sejumlah fakta yang memprihatinkan. Sekedar contoh, bacaan ayat dan hadisnya bermasalah, kontennya tidak sesuai ajaran Islam, aktivitas dakwahnya menyesatkan, dan lain sebagainya. 

Aktivitas dakwah via media massa dan media sosial, seperti Facebook, Whatsapp, Instagram, Twitter, ditengarai kurang bernilai edukasi, menebar ujaran kebencian, hoaks, provokasi, fitnah, adu domba, berorientasi radikalisme destruktif misalnya,” beber guru Pai tersebeut.

Jika dakwah dan etika dakwah, termasuk dakwah digital, sering diabaikan. Komunikasi persuasif, santun, dan edukatif kurang diindahkan. Layanan dakwah diberikan berdasarkan tarif tertentu. 

Bahkan, dakwah juga dipolitisasi untuk mendukung atau menjatuhkan calon tertentu yang berkontestasi dalam pilihan presiden atau pilihan kepala daerah.  

Maka standardisasi dai sangat penting. Bertujuan menyamakan persepsi dan pemikiran di kalangan para dai tentang substansi dan aksi dakwah yang menyejukkan, mendamaikan, mencerdaskan, dan mencerahkan, ucapnya. 

Koordinasi dan kolaborasi gerakan dakwah antara dai umat Islam dan pemerintah di era industry 4.0 menuju masyarakat society 5.0, insya Allah bermuara membuahkan sinergi simbiosis mutualisme dalam mengembangkan dakwah berwawasan kebangsaan sekaligus merupakan moderasi dalam beragama. 

Dakwah itu menebar rahmat, bukan mengumbar kebencian. Mari tergerak, bergerak dan menggerakkan. Cemerlangkan sejuta Ummat, Cerdaskan Bangsa menjadi yang terbaik dalam prestasi dunia akhirat. Biasanya untuk kegiatan peduli agama dengan syiar pernah di Radio Solopos fm, Radio PPI Solo, RRI Pro 1 Surakarta dan komunitas peduli agama, sistem, manusia dan lingkungan,” pungkasnya.(Red)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama