Pengalaman Ramadan, Semangat Mengakhiri Pandemi

Pengalaman Ramadan, Semangat Mengakhiri Pandemi

             Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed.*

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah



Kajian Ramadan Sehat dan Aman

Selasa, 11 Mei 2021 


Berpuasa Ramadan di Masa Sulit

Kita tentu memahami bahwa saat ini adalah masa-masa yang tidak selalu mudah, karena kita beribadah di tengah pandemi di tahun kedua. Memang suasana psikologis berbeda antara Ramadhan tahun lalu dan tahun sekarang. Tahun lalu kita terlihat begitu gugup dan gagap, sangat tidak siap dengan perubahan-perubahan yang ada, terutama pada aspek-aspek kultural dari pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan.

Secara spiritual, pelaksanaan puasa di situasi apa pun sama saja. Sebab hakikat berpuasa adalah beribadah kepada Allah dan membentuk diri kita sebagai manusia yang bertaqwa. Tetapi suasana kultural memang tidak bisa dipisahkan, karena ekspresi atau aktualisasi dari berpuasa yang merupakan bagian dari ibadah dan berbagai ibadah yang disunnahkan di bulan Ramadhan penuh dengan berbagai ekspresi yang khas dengan budaya Indonesia. Budaya Indonesia sendiri adalah budaya yang dibentuk dari pengamalan ajaran agama Islam. Misal, tradisi buka bersama, yang sesungguhnya merupakan pengamalan dari hadis Nabi supaya kita bersedekah memberi makan kepada orang yang berpuasa. 

Kita juga merayakan kegembiraan berpuasa, karena bagi orang berpuasa terdapat dua kebahagiaan. Lishshoimu farhatani (bagi yang berpuasa ada dua kebahagiaan): kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika nanti berjumpa Allah azza wa jalla. Kebahagiaan berbuka itulah yang kemudian dieskpresikan ke dalam bentuk budaya kreatif seperti buka puasa. Bahkan apabila tidak ada pandemi, buka puasa akan menjadi lebih bernuansa politik karena aka nada banyak pejabat yang melakukan open-house, sehingga menjadi budaya baru.

Budaya selanjutnya adalah tadarus al Quran, yang merupakan bagian dari kita mengamalkan hadis Nabi, bahwa Ramadhan adalah syahrul quran. Syahrul quran bermakna dua hal: bulan yang di dalamnya Allah menurunkan Al Quran dan bulan di mana kita memperbanyak membaca, memahami, dan mengamalkan Al Quran. Inspirasi budaya ini adalah dari Nabi Muhammad yang tiap malam tadarus bersama Jibril, menjadikannya sebagai dorongan bagi kita untuk terus membaca Al Quran. Maka dari itu muncullah tradisi tadarus al Quran yang memang nuansa kulturalnya juga sangat kuat. 

Dahulu ketika saya masih kecil di kampung, saya mengaji bareng dan disimak, kemudian misal ada lafadz-lafadz yang berkaitan dengan orang-orang yang baik, misal Nabi, Rasul, orang-orang shaleh, lalu kita melafalkan ‘alaihi salam’. Kemudian misal disebut lafadz-lafadz jin, setan, atau orang kafir, kita melafalkan ‘laknatullah’. Tapi semua itu adalah tradisi, sedangkan yang diperintahkan Al Quran adalah kita membaca, memahami, dan menghafalkan.

Meski pun demikian, ekspresi budaya di atas sangatlah luar biasa. Karena itu juga ekspresi budaya itu semuanya melibatkan perjumpaan antar manusia. Sebab memang selain karena kita makhluk sosial, masyarakat dan bangsa Indonesia ini memiliki kecenderungan sikap komunal dan sosial yang sangat tinggi. Kita ini kan sangat suka berkerumun, suka sekali bersama-sama dengan orang lainnya. Orang Indonesia bukanlah orang individualistis, karena memang suasana kebersamaan, suasana guyub, adalah suasana yang terbangun sangat kuat dan sangat terasa pada bulan Ramadhan.

Ketika hal-hal di atas sudah berpuluh-puluh tahun terlembaga di dalam masyarakat kita, lalu saat ini kita harus melihat realitas baru yaitu Covid-19, di mana kita tidak leluasa melakukan tarawih dan tadarus di masjid, lalu buka Bersama, dan berbagai macam acara gathering yang biasa dilakukan, maka memang terasa ada yang hilang atau hampa dalam puasa ini. Tetapi semua itu merupakan sesuatu yang sifatnya kultural, bukan syariat. Artinya yang ada itu misalnya tidak kita laksanakan sebenarnya tidak apa-apa. Misalnya kita bisa bertadarus dan tarawih di rumah bersama keluarga, itu tidak mengurangi pahala dan kenikmatan kita beribadah. Sedekah dalam bentuk memberi makan orang yang berbuka juga tidak harus berupa makan bersama-sama, namun bisa kita antar kepada tetangga kita, orang-orang yang memerlukan makanan. Jadi sifatnya bukan gathering atau inviting, tetapi delivery.

Covid-19 ini adalah realitas baru (new reality), yang kemudian setelah kita mencoba beradaptasi, kemudian menjadi new normal. Sesuatu yang baru, tetapi kemudian menjadi normal. Tetapi nanti juga ada sesuatu yang baru lagi, sehingga setelah tadi saya jelaskan kaitannya dengan amaliyah yang dilaksanakan di dalam bulan Ramadhan, nanti kita akan memasuki tradisi yang ada di akhir Ramadhan. Biasanya ada tiga kegiatan yang dilaksanakan di akhir Ramadhan, yang satu adalah takbir, kedua sholat idul Fitri, dan ketiga halal bi halal. Takbir memang dianjurkan, seperti dalam hadis, terjemahnya: ‘Hiasilah hari raya kalian dengan memperbanyak membaca takbir.’ (H.R. Ath Thabrani)

Beberapa menyebutkan ada tambahan “bitakbiri wa tahmidi wa takhtis” (Hiasilah hari rayamu dengan takbir tahmid dan tahtis). Kita diperintahkan untuk bertakbir mulai dari malam Syawal. Takbir adalah syariat, tetapi takbiran adalah budaya. Bahkan, sampai ada budaya takbir keliling. Sekarang kita tidak bisa melakukan itu lagi karena memang kita berada di situasi Covid-19. Karena memang kegiatan itu saat ini berisiko secara kesehatan dan bisa membuat situasi semakin tidak aman dan nyaman.

Kedua, adalah shalat Idul Fitri, di mana sunnahnya memang kita melakukan di lapangan, kemudian ada Sebagian melaksanakan di masjid. Dan karena ini adalah hari bergembira, maka hadis menyampaikan bahwa perempuan, anak-anak, dan bahkan perempuan yang sedang berhalangan, hendaknya diajak untuk ikut ke lapangan. Diajak bukan untuk sholat, karena sedang berhalangan, namun untuk mensyiarkan dan merasa bergembira karena hari raya. 

Dalam hadis juga disebutkan bahwa Nabi sendiri pada saat setelah shalat Id ada hiburan kecil-kecilan di rumah. Disebutkan bahwa ada orang yang bernyanyi-nyanyi sambil makan-makan, kemudian Nabi bersandar di punggung atau pundaknya Aisyah sambil menyaksikan. (Teks hadis sebagai berikut: “Abu Bakr masuk dan ketika itu bersamaku ada dua orang anak kecil perempuan dari kalangan Anshar bersenandung syair kaum Anshor pada perang Bu’ats, dan kedua anak itu bukanlah penyanyi. Maka Abu Bakr berkata,  ‘Apakah seruling-seruling setan di rumah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam? ’ Dan ketika itu hari raya, maka Rasulullah SAW bersabda: Wahai Abu Bakr, biarkan mereka karena sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya, dan ini adalah hari raya kita.”  (HR. Al-Bukhari dan Muslim). ed.)

Hari raya idul Fitri ini adalah suatu kebahagiaan yang biasa kita lakukan, namun karena ini kita sedang dalam situasi Covid-19, maka sesuai dengan keputusan PP Muhammadiyah, juga maklumat dari MCCC, maka bila kita melaksanakan sholat di lapangan, sebaiknya dibatasi jamaahnya, yaitu hanya untuk jamaah yang tinggal di lingkungan terdekat dengan kita. Kemudian tetap memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, kemudian sudah berwudhu sejak dari kita berangkat dari Rumah, sehingga tidak ada orang yang berdesak-desakan nantinya.

Ketiga, dan yang cukup sulit, adalah halal bi halal yang oleh sebagian masyarakat dirayakan dengan mudik. Saya juga termasuk orang yang sering mudik, karena saya di Jakarta sejak tahun 2002, sejak menjadi Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah. Jadi, misal dihitung sampai sekarang, hampir 21 tahun saya berada di Jakarta dan sudah 19 kali saya mengalami idul Fitri. Saya ini termasuk mudikers militan. Sampai sebelum kejadian pandemi  Covid-19 saya selalu mudik. Tetapi sejak ada Covid-19, paling tidak ini adalah tahun kedua saya tidak mudik, tahun kemarin saya juga tidak mudik. 

Memang ada sesuatu yang baru, di mana kita biasa berkumpul bersama orang tua dan keluarga, bertemu langsung dan bersalaman, namun sekarang kita bertemu dan bersalaman secara virtual. Tetapi memang menjadi unik ketika orang tua kita bisa berinteraksi dengan kita, misalnya, dengan aplikasi zoom meeting. Ada keceriaan yang justru muncul karena ada teknologi yang bisa membantu silaturahim kita. 

*Mudik Virtual Mudik Spiritual*

Jadi jika dulu kita silaturahmi dan merayakan mudik secara kultural, nah sekarang kita merayakan mudik secara virtual. Tetapi yang paling penting menurut saya adalah mudik spiritual, karena orang yang berpuasa di antara tujuannya adalah supaya kita menjadi orang yang bersih dari dosa. Ada hadis, terjemahnya, “Barangsiapa yang berpuasa (di bulan) Ramadhan (dalam kondisi) beriman dan mengharapkan (pahala), maka dia akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu.’ (H.R. Bukhari Muslim)

Pada hadis lain disebutkan juga, terjemahnya: “Barangsiapa  berpuasa dan shalat malam dengan mengharap pahala (keridhoan) Allah, maka dia keluar dari dosanya seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya.’ (H.R. Ahmad)

Beberapa menyebutkan, barang siapa yang melaksanakan puasa dan qiyamul lail karena iman dan mengharap ridha Allah, maka dia keluar dari bulan Ramadhan bersih dari segala dosa sebagaimana mereka baru pertama kali lahir di dunia. 

Mudik spiritual ini yang sesungguhnya lebih penting dari semuanya. Jadi, bila ada mudik kultural itu sebenarnya celebration, perayaan kemenangan kita secara spiritual kemudian diekspresikan dalam bentuk acara-acara budaya. Tentu acara-acara itu bagus bila dilaksanakan, namun tidak mengapa juga bila tidak dilakukan. Substansinya adalah bagaimana kita melaksanakan puasa dan ibadah-ibadah di dalamnya dengan sempurna. 


Sewaktu saya dulu tinggal di Australia tidak ada kultur seperti itu, sehingga selesai sholat (id), ya sudah langsung kembali aktivitas seperti biasa, jadi tidak mengapa bila tidak ada. Hanya saja, memang, karena ini budaya dan sudah berlangsung selama puluhan tahun, sehingga jika ditiadakan akan menjadi terasa ada sesuatu yang kurang. Sehingga ketika pemerintah membuat peraturan dan berbagai macam penertiban, tetap masih ada yang mudik secara kucing-kucingan. Muhammadiyah juga menganjurkan untuk tidak mudik, tetapi sebaiknya kita maksimalkan untuk kita tetap tinggal di rumah masing-masing dan tetap melaksanakan ibadah sesuai sunnah Rasulullah. 

*Zakat di Masa Pandemi*

Pada bulan Ramadhan ini juga ada ibadah wajib yang harus kita tunaikan, yaitu membayar zakat fitrah, yang oleh mayoritas ulama dihukumi wajib. Zakat fitrah ini tujuannya untuk membersihkan jiwa dan memberi maka orang miskin. Biasanya juga zakat fitrah dibagikan dengan mengundang orang dan berdesak-desakan. Maka sekarang supaya aman dan sehat, kita bisa memakai data untuk distribusi zakat. 

Di era big data ini kita bisa mendata siapa mustahiq, jumlahnya, lokasinya, kemudian zakatnya kita antar supaya tidak ada kerumunan. Model ini juga lebih menghormati orang yang menerima juga, karena kita masih ada budaya di mana kita merasa hebat ketika kita memberikan sesuatu dan yang menerima berbondong-bondong datang ke kita. Apabila zakat ini kita antar langsung, mudah-mudahan itu lebih ikhlas, aman, dan dirasakan langsung manfaatnya oleh mustahiq.

Karena itu, kaitannya dengan berbagai ibadah dan tradisi di bulan Ramadhan ini, pertama kita harus bisa memilah mana yang ibadah dan mana yang tradisi. Bagian ibadah harus kita laksanakan sesuai dengan sunnah, tetapi untuk tradisi, bila memang dapat kita laksanakan dengan aman dan sehat, maka tidak mengapa. Tetapi apabila tradisi ini tidak aman dan tidak sehat, maka sebaiknya tidak kita lakukan, karena tujuan syariat adalah untuk menjaga kehidupan manusia (hifdzunnaas). 

Jangan sampai karena ibadah, orang justru kemudian menjadi carrier dan menularkan penyakit kepada orang lain. Karena itu ketika kita tidak tadarus di masjid, tidak berarti kita melanggar syariat, tetapi kita melaksanakan syariat dengan cara yang berbeda, yaitu melaksanakannya di rumah. Kalau kita tidak tarawih di mushola atau masjid, tidak berarti kita melanggar syariat. Nabi sendiri tarawih di masjid hanya satu kali, selainnya selalu tarawih di rumah. Sehingga bila kita tarawih di rumah maka tidak berarti kita meninggalkan syariat, tetapi kita melaksanakan syariat dengan cara berbeda, begitu pun dengan ibadah-ibadah yang lainnya. (Teks hadis sebagai berikut: “Diceritakan dari Abu Dzar r.a: “Kami berpuasa bersama Nabi SAW di bulan Ramadhan, dan beliau tidak pernah menghidupkan malam Ramadhan bersama kami (di masjid) kecuali pada malam ke-23, beliau, shalat bersama kami sampai 1/3 malam. 

Di malam ke-24, beliau datang kepada kami. Dan malam ke-25 beliau datang menjadi imam shalat kami sampai setengah malam. Kemudian beberapa dari kami mengatakan kepada Nabi SAW: “Apa tidak kita habiskan saja satu malam untuk beribadah sunah ini? Nabi menjawab: “Siapa yang sholat bersana imam, maka seluruh malamnya dihitung sebagai ibadah”. Dan beliau tidak datang kepada kami di malam 26, dan datang lagi di malam 27, dan di malam itu kami sholat bersama beliau, dengan manusia yang banyak dan kami khawatir melewatkan sahur.” (H.R. Al-Baihaqi))

Karena itu, setelah selama 30 hari ini kita menempa diri kita dengan berbagai ibadah di bulan Ramadhan, tantangan selanjutnya adalah menjaga stamina dan meningkatkan apa yang selama ini sudah kita lakukan. Sering sekali kita mendengar ceramah bahwa syawal artinya peningkatan, jadi seharusnya setelah kita berpuasa, maka ibadah-ibadah kita, termasuk sedekah, kita tingkatkan pada bulan-bulan syawal. Karena sesungguhnya tantangan kita yang paling berat adalah bagaimana menjadikan setiap bulan setelah Ramadhan ini, mulai dari syawal hingga sya’ban, sebagai bulan yang kita di dalamnya mengisi berbagai kebaikan seperti yang kita lakukan di bulan Ramadhan.

Tentu kita semua harus menyadari sepenuhnya bahwa pandemi ini belum berakhir, dan Covid-19 ini masih menjadi masalah kita bersama. Agar masalah ini lebih cepat kita selesaikan, maka marilah kita mengikuti protokol kesehatan.

Kita tetap melaksanakan 3M yang populer itu, yaitu Mencuci tangan, Menjaga jarak, dan Memakai masker. Beberapa ada yang menambahkan Meningkatkan iman, Meningkatkan solidaritas, jadinya 5M. Itu juga penting, kita meningkatkan iman dan imun, tetapi jangan ‘eman’, jangan pelit, karena sekarang justru banyak orang yang membutuhkan pertolongan dan uluran tangan kita. 

Kemudian kebiasaan-kebiasaan yang sudah biasa kita lakukan seperti tadarus, mudah-mudahan kita tetap bisa mempertahankan tadarus kita. Tidak perlu terburu-buru, misal harus khatam satu bulan khatam 30 juz. Yang penting adalah rutin, karena ibadah tidak diukur dari banyaknya, namun konsistensinya. Adhwamuha wa in qalla, ibadah itu yang penting keberlanjutannya, walau pun sedikit. Sedikit tetapi rutin, akan menjadi sebuah kekuatan tersendiri. 

Rutinitas bukanlah sesuatu yang jelek, rutinitas adalah sesuatu yang baik. Dengan rutinitas, otak kita akan membentuk dan membuat suatu jadwal, misal pada jam sekian kita harus bangun, mengaji, sholat, makan, itu semua diatur oleh otak kita dalam sistem neurologi atau sistem otak kita.

Karena itu habit atau kebiasaan yang sudah terbangun selama satu bulan ini, marilah semaksimal mungkin kita pertahankan, dan tetap kita jaga kesehatan kita, keamanan kita, dan kenyamanan kita, karena itu adalah kunci untuk kita bisa mengatasi pandemi ini secara bersama-sama. [dt; ditranskrip oleh dinta da wijaya, editor: ariefbudimanch).

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama