Lazismu Wujudkan Rumah Layak Huni dan Bantuan UMKM Untuk Penyintas

Lazismu Wujudkan Rumah Layak Huni dan Bantuan UMKM Untuk Penyintas


Jakarta -- Indah kini dapat tersenyum. Rumahnya kini telah dapat ditempati dengan layak. Sebelumnya Indah yang merupakan penyintas Tuberkulosis atau TB harus tinggal di sebuah rumah kecil dengan keadaan memprihatinkan. Bahkan ia menempati rumah tersebut bersama dengan 9 anggota keluarga lainnya secara berdesak-desakan. Belum lagi kondisi Indah yang mengharuskannya untuk mengundurkan diri dari pekerjaan sebagai karyawan toko lantaran mengidap penyakit TB dan harus menjalani pengobatan di rumah. Hidupnya pun hanya mengandalkan tabungan dan belas kasih orang lain.

Melalui program Rumah Harapan yang digagas oleh Yahintara (Yayasan Arsitektur Hijau Nusantara) dan berkolaborasi dengan Lazismu, Kementerian Kesehatan RI, Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, Pemerintah Kota Jakarta Pusat, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), POP Tb Indonesia, Dompet Dhuafa, serta BBKPM Bandung ini, Indah akhirnya memiliki hunian yang sehat. Program ini sebagai upaya untuk memperbaiki kualitas udara pada rumah di lingkungan padat penduduk serta menciptakan kawasan yang tertata, aman, sehat, dan iklim menjadi kondusif. Melalui program ini, rumah Indah yang berukuran 3×3 meter di Jalan Pasar Senen Dalam VI, RT 015/RW 004, Kelurahan Senen, Jakarta Pusat tersebut dibongkar dan dibangun ulang hingga sesuai standar yang seharusnya.

Penyerahan bantuan Rumah Harapan berlangsung pada Selasa (09/04), dihadiri oleh Wali Kota Administrasi Jakarta Pusat, Dhany Sukma. Ia mengatakan bahwa program serupa akan dikembangkan lagi secara lebih luas. Pembangunannya pun tetap mempertahankan ciri khas kampung sebagai bagian dari ciri khas sebuah kota.

"Kita ingin mengembangkan kolaborasi yang sudah terwujud ini untuk skala yang lebih luas di Jakarta Pusat. Nantinya akan ada 75 rumah yang akan dibangun melalui program bedah rumah dengan melibatkan IAI untuk membuatkan desain rumahnya. Ciri khas kampung itu harus tetap ada sebagai ciri khas sebuah kota, maka dari itu akan dilakukan upaya penataan dan pembenahan yang menuju kepada standar kota sehat," ujar Dhany.

Pembangunan kembali rumah ini disambut baik oleh Indah. Ia pun mengungkapkan rasa syukur dengan adanya bantuan berupa renovasi sehingga rumahnya kini sesuai standar kesehatan dan dapat ditempati dengan layak. "Alhamdulillah sangat bersyukur sekali dan terima kasih kepada para donatur yang sudah berbaik hati menolong saya," ungkapnya.

Mochammad Sholeh Farabi selaku Manajer Program Ekonomi dan Kesehatan Lazismu Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah yang turut menghadiri acara serah terima Rumah Harapan ini menceritakan, kondisi rumah Indah sebelumnya jauh dari kata layak. Rumah kecil bertingkat 2 tersebut bahkan menempel dengan dinding rumah tetangga pada setiap sisi dan sudutnya. "Mereka pun tidur harus bergantian karena saking sempitnya. Ini kan kondisinya tidak baik untuk penderita TB. Kini dijadikan 3 lantai, memiliki ventilasi atau aliran udara yang baik dan bisa dimasuki sinar matahari sehingga bisa membunuh bakteri TB," terangnya.

Lebih lanjut Farabi menjelaskan bahwa Lazismu juga berperan dalam memberikan bantuan ekonomi kepada Indah, mengingat ia harus berhenti bekerja saat menjalani pengobatan TB. Bantuan dari program Pemberdayaan UMKM Lazismu pun dikucurkan, berupa modal usaha untuk penyintas TB sebesar 3 juta rupiah. Ini sejalan dengan komitmen Lazismu yang tak hanya memberantas TB, namun juga membantu para penyintasnya dari sisi ekonomi. "Karena Indah sudah sembuh, kita bantu melalui pemberdayaan ekonomi yaitu modal usaha agar Indah bisa memiliki penghasilan yang bisa untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari," jelasnya.

Program kolaborasi ini, papar Farabi, akan terus berlanjut. Sebelumnya, Lazismu juga telah membantu bedah rumah penyintas TB di Bandung, kemudian dilanjutkan dengan rumah Indah di Jakarta. Rencananya akan dilaksanakan di 7 kabupaten/kota untuk membantu penyintas TB di Indonesia. "Program ini sangat bagus, apalagi program ini adalah hasil kolaborasi dari beberapa lembaga swasta dan pemerintah untuk membantu penyintas TB agar memiliki kehidupan yang lebih layak, bisa sembuh, dan memutus mata rantai penularan TB di Indonesia," pungkasnya.(Red/Kamal)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama